Chronic Kidney Disease stadium 5

December 6th, 2007 by mitha

Menghadapi pasien penderita penyakit
apapun memang kudu butuh ekstra sabar. Dulu waktu bokap kena stroke,
nyokap sering nangis menahan kesal, bahkan nyaris depresi. Padahal
nyokap orang yang paling tabah yang gw kenal seumur hidup gw.

 

Abang gw setiap detik marah-marah,
stress karena biaya dan tenaga yang dikeluarkan ga sedikit. Kesabaran
gw terus-terusan diuji, semua perhiasan gw jual, saldo tabungan nol
besar. Gw harus berjuang keras supaya keluarga gw ga berantakan.

 

Setelah kepergian bokap gw hidup
berbulan-bulan dalam peyesalan. Menyesal ga menghadapi saat-saat
terakhir beliau menjalankan sakaratul maut. Menyesal mengabaikan
permintaan terakhir supaya ga pulang ke kosan seminggu sebelum beliau
menghadap-Nya. Menyesal belum bisa membuat beliau menjadi orang
paling bahagia menghadapi pernikahan gw.

 

Ga jarang gw dan nyokap nangis bareng.
Sesekali beliau cerita kalau setiap Sabtu Bapak selalu duduk diteras
menyaksikan setiap tukang ojek yang lewat. Berharap gw anaknya salah
satu penumpangnya. Semakin lama gw di rumah nyokap semakin teringat
sama bokap secara gw anak yang paling sering mengurus beliau.
Menggunting kuku, mencukur jenggot, menggunting rambut. Pernah
seminggu gw ga pulang kuku jari tangan bapak hitam karena tidak
dipotong!

 

Sekarang setelah sekian tahun berlalu
gw kembali terpuruk dalam kondisi yang sama. Nyokap gw dirawat dua
bulan lebih di RSCM karena komplikasi dan harus masuk ICU. Berat
badannya semenjak kepergian Bapak hilang sebanyak 20 kg lebih.
Setelah melihat berbagai macam selang dan kabel infus menusuk kulit
keriput pembalut tulang beliau, gw pasrah sama Tuhan. “Ya Allah,
jika Engkau menghendaki, hamba relakan ruhnya kembali pada-Mu. Namun
hamba mohon berikan kepada beliau kesempatan untuk menghadap-Mu dalam
sebaik-baik ibadah, seperti keinginan beliu semasa sehat”.

 

Ajaib, disaat gw serahkan semua urusan
ke Allah, kesehatan nyokap membaik. Selang makan dicabut, jarum infus
berkurang, emosi stabil. Perlahan mulai bisa duduk dan belajar jalan.
Selang sebulan setelah pulang ke rumah kateter bisa dilepas.
Alhamdulillah, tak habis rasa syukur gw panjatkan, ternyata Allah
mendengar permohonan gw. Walaupun kenyataan pahit harus gw telan,
nyokap divonis gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seumur
hidupnya!   

 

Sekarang beliau sangat sensitif, mudah
tersinggung, menuntut perhatian lebih. Gw harus berjuang keras supaya
mental beliau tidak down menyaksikan 3 orang anaknya jobless dan
semua biaya mulai dari makan, transportasi cuci darah, perawatan
rumah, ditanggung gw. Meskipun gw sudah bersumpah demi Allah gw
ikhlas, nyokap tetap saja sedih. “Ini kan bukan tanggung jawabmu
nak, ini tanggung jawab anak laki-laki………”

Bookmark and Share

Serba Serbi Hari ini

September 21st, 2007 by mitha

Makan sahur yang ke -10 hari ini, dengan mata ngantuk dan nafsu makan yang hilang. Selesai azan subuh rencananya mau masak ikan kembung sayur tauco tapi sama my darlin’ di suruh tidur. Bangun tidur langsung gerabak-gerubuk, musti belanja pula, ikan kembungnya belum ada!

Tukang sayur yang biasa mangkal di ujung gang hari ini ga jualan, secara kalau gw lg ga perlu dia jualan terus. Terpaksa jalan jauh ke langganan gw. Balik ke rumah sudah kesiangan. Bersihin ikan, digaramin, masukin kulkas trus cabut ke kantor. Beginilah kalau ga punya pembokat, ribet!

Di bus rencananya mau tidur, tapi mata malah susah kompromi. Stel radio dari HP, sambil mengamati lingkungan sekitar. Terharu dengar kisah presiden Iran yang hidupnya sangat sederhana dan bersahaja. Ketika di interview majalah Time (kalau ga salah dengar) “apa yang anda lihat ketika bercermin di pagi hari?”. Lalu beliau menjawab ”saya melihat diri saya sebagai seorang pelayan bagi rakyat bangsa ini.”.

Jadi ingat kisah khalifah di zaman nabi Muhammad dulu. Andaikan para pemimpin kita seperti itu, berebut dalam melayani Negara, bukan berebut dalam memperkaya diri. Masa teladan khalifah itu malah dicontoh oleh Walikota New York Michael Bloomberg yang minta digaji 1 dollar per tahun dan naik kereta menuju kantornya?

Lagi asyik2nya dengar kisah Ahmadinejad, di depan bus ada segerombolan anak ABG berlarian mengejar mobil kijang bak terbuka yang mengangkut besi bekas. Cakung yang memang sehari-harinya padat merayap menjadi kesempatan besar buat para bajing loncat menjarah mobil pengangkut yang mengarah ke pabrik peleburan. Astagfirullah….bulan puasa masih saja dikotori perbuatan2 tercela. Sedihnya lagi, perbuatan ini kebanyakan dilandasi kebutuhan berlebaran. Puasa tidak, lebaran dengan hasil maksiat. Masya Allah….

Bookmark and Share

This is a serious condition…

September 17th, 2007 by mitha

Hari ini rapat management, ada interfensi dari dewan direksi. Suasananya sudah spooky sejak awal big boss masuk. Banyak pertanyan yang menggantung di benak masing2 MB yang pada awalnya akan ditanyakan langsung ke big boss.

Mungkin karena secara tidak langsung pertanyaan tersebut telah terjawab generally di awal meeting, tidak semua MB berani mengeluarkannya uneg-unegnya. Atau mungkin mereka fikir “buat apa bertindak konyol dengan menanyakan hal yang jawabannya akan sama dan dipermalukan?

Ada statement boss yang memojokkan gw, setidaknya itu yang gw rasa. Mulanya gw males berkomentar, tapi entah kenapa sifat “garang” gw keluar juga setelah ‘kecuekan” gw dikomentari.

Entah karena tidak enak hati atau menyadari beban kerja gw memang sudah full, big boss mengakui kalau dintara yang hadir dirapat itu pekerjaan gw adalah yang terberat.

Saat beliau menawarkan siapa yang mau pindah ke bagian Sales, banyak yang mengajukan diri. Disaat bersamaan beliau juga bilang “saya yakin tidak ada seorangpun dalam ruangan ini yang mau pindah menggantikan posisi Mitha di Purchasing”sambil melirik gw dengan senyum tertahan. Statement beliau dijawab dengan keheningan………..

Bookmark and Share

You’ll get mad or get even?

July 12th, 2007 by mitha

Last night while listening to the radio during my way home, I couldn’t control my laugh. It’s such a silly crazy jokes and I can’t stand when I heard the desperate Singaporean Mimi said “It takes more than a man to carrying me” while the other crazy American Jessy said “Ha ha yeah, it takes more than a man and bajaj to carrying you”.

The talk show was talking about “You’ll get mad or get even when someone hurts your feeling”. I heard the show using my hand phone and the ear phone cable hiding behind my hijab.

Knowing that I became crazy and people on the bus starring at me with their weird faces, I pretend to sleep then, of course with smiling face. And the show’s goes on…….

Bookmark and Share

Sunyi sepi sendiri….

June 20th, 2007 by mitha

Makan siang sendirian neeh depan laptop. Pembisik kiri, Mami Ari sama kanan, Tante Monik sedang melanglang buana. Sumpah, kondisi kantor detik ini sunyi, senyap, tentram. Kenapa gw baru sadar sekarang kalau ga ada mereka DR aman dan damai hi..hi..

Siang ini catering gw ga menggiurkan. Jadi, gw ambil jatah si Mami. Hasilnya? Licin tandas…he..he..Hitung-hitungannya belakangan, khan sudah biasa dari dulu sesama kita-kita saling hutang kaya lingkaran setan…hu…hu…ngutang aja bangga!

Bookmark and Share

Ku bukan diriku lagi

August 13th, 2006 by mitha

Di kantor, menjelang istirahat

Heri Mulyo: Mita, aku sebel sejak kamu duduk di situ (Purchasing)

Mitha: Emangnye nape?

Heri Mulyo: Habis kamu cemberut terus, nggak gila kaya dulu waktu di Sales

Mitha: Jangan kawatir, gw masih tergila-gila sama loe kok…gila loe…gila loe…

Heri Mulyo: Hua…ha…ha….(tonsil-nya sampai mo keluar)

Di toilet, di ruang Sales sambil makan siang

Ibu Sri: Sekarang kok jadi beda, kemana Mbak Mitha yang dulu?

Mitha: Maksud Ibu? (Kalo ngikutin iklan ga sopan Bo!)

Ibu Sri: Mbak Mitha yang enerjik, yang ceria

Mitha: Mmm…kemana ya? Nanti saya cari tahu kabarnya deh Bu.

Di musholla, di kasir, dimana ada waktu

Kusmiyati: Mit, loe kenapa sih?

Mitha: Kenapa?

Kusmiyati: Loe itu bukan Mitha yang dulu gue kenal

Mitha: Emang loe kenal gw gimana?

Kusmiyati: Mitha yang gila, yang jail, yang ga bisa diem, yang ancur, yang doyan ngocol, yang doyan nyanyi

Mitha: Mana sempat Kussssssss
Kusmiyati: Pokoknya gw mau loe kaya dulu lagi

Mitha: Iya….ntar kalau sempat!

Lagi gedubrakan di meja

Uce: Mbak Mitha mejanya penuh banget. Sibuk banget kayanya, makan aja sambil kerja

Mitha: Iya nih, kerjaan ga abis-abisnya ihik…ihik…(sambil nyengir kuda-terpaksa)

Uce: Hi…hi…hi…Mbak Mitha lucu deh.

Mitha: ??????

Uce: Iya, ketawanya lucu…hi..hi…udah ya, nanti mengganggu lagi

Lagi prospek gw masuk Amway

Ibu Dewi: Mitha bisa masak ya? Wah padahal dulu tomboy banget lho mas Aris.

Suamiku: (Mesam-mesem aja sambil ngunyah)

Ibu Dewi: Rambutnya bondol terus, sekarang udah semana Mbak?

Mitha: Sepinggang

Ibu Dewi: Hah? Lho kok bisa?

Mitha: Iya, aku sendiri heran, kok bisa ya?

Ibu Dewi: Tapi sekarang Mitha ga lucu kaya dulu lagi. (Nah loe!)

Bookmark and Share

Jenius, melawan kodrat atau bodoh?

July 19th, 2006 by mitha

Allah karuniakan manusia dengan akal budi dan hati nurani yang membuatnya lebih mulia dibandingkan mahluk lain ciptaan-Nya. Tapi terkadang intelektualitas yang tinggi mebuat manusia lupa akan kodratnya  dan bisa sampai pada kondisi yang lebih parah, tidak mengakui adanya Tuhan. Kaum ateis mengatakan bahwa semua hal yang ada di alam raya ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan atau mengaturnya. Mereka menyangka bahwa diri mereka cerdas padahal bodoh belaka karena mana mungkin milyaran galaksi dengan milyaran bintang di dalamnya bisa dengan teratur pada posisi masing-masing tanpa ada yang mengatur.

Masih ingat pro-kontra masalah cloning, sebuah proses rekayasa genetika untuk menggadakan makhluk hidup dengan cara mengambil DNA dari makhluk hidup yang ingin digandakan? Apakah mungkin nanti satu hari kelak mereka bisa mengkloning manusia? Mungkin saja. Tapi apakah manusia hasil kloning memiliki roh, selain hanya tubuh? Bukankah manusia tanpa roh itu sama seperti hewan yang tidak mempunyai akal budi dan hati nurani?

Pernah tahu tentang laki-laki yang mencoba hamil? Baca lebih lanjut di http://www.infolab-online.com/v1/index.php?infolab=detail&detail=85 atau http://www.malepregnancy.com/. Bagaimana dengan pameran seni anatomi yang berasal dari tubuh manusia asli yang diawetkan? Coba click http://www.guardian.co.uk/gall/0,,669680,00.html/ untukmelihat hasil karya sang “Frankenstein”. Bagaimana menurut kalian?

Bookmark and Share

1st wedding anniversary

July 10th, 2006 by mitha

Tepat hari ini, 10 Juli 2005 aku dan suami menikah di musolla Al Munawwar-Departemen Agama. Tidak terasa sudah setahun kami membina rumah tangga yang alhamdulillah sangat kami nikmati dan syukuri, walaupun belum diberi keturunan.

Harapanku, semoga perkawinan kami langgeng sampai ajal memisahkan dan semoga Allah mempertemukan kami di akhirat kelak dalam keadaan yang mulia di sisi-Nya, amien.

Bookmark and Share

Bisik-bisik tetangga.

July 10th, 2006 by mitha

Aih aih….dankdut banget ga seeeh judulnya?

Senin pagi, hari paling malas sedunia. Lebih-lebih Sabtu & Minggu kemarin jadwalku padat sekali. Termasuk bantu-bantu tetangga yang pesta khitanan, 3 hari Bo!

Pada saaat bantu-bantu itulah aku mulai terlibat rumpian ibu-ibu se-RT.Topiknya adalah yang punya hajat. Tidak ada satu kata-katapun yang positive yang aku dengar dari tetangga ataupun familinya, termasuk SUAMInya! Bahkan di sela-sela pesta sang suami menghina istrinya di depan bapak-bapak panitia yang tak lain adalah tetanga-tetangga terdekat, meskipun semua menganggap bercanda.

Sebenarnya aku nggak habis pikir dengan suami istri itu. Sang istri tidak melayani suami dengan baik, tidak memasak untuk suami, tidak mencucikan bajunya, tidak menjadi teman diskusi yang baik, tidak hormat kepada mertua, sombong terhadap saudara, tidak akur dengan tetangga,. Sedangkan sang suami mengumbar-umbar aib sang istri yang notabene adalah aibnya sendiri, tidak bisa memimpin keluarga, nauzubillah……Semoga aku dan suami terhindar dari sifat-sifat sedemikian.

Bookmark and Share

People come, people go

July 5th, 2006 by mitha

22-2-1999…what a pretty number!!! You know what??? That was my 1st time working here. Such a long time huh? Exactly! I feel like thousand years already.

I’m gonna miss one of my pals here, Si Mbah Lanang: the man with a white hair. He is the old era friends I have since he joined the company a week before me. Now, only me and Kemal left. The others are new comers, at least a year after me.

Since easier for me to get along with male friends, Heri and I became a close friend. Quite close that make him treated me like his “Selir” (poor me) while I treated him like my grandpa…ha..ha….

He is my motivator (when I’m in love with someone), my wedding tutor (when I doubt to get marry), my advisor (when I need a good advice), and the most important is…..he’s my victim (when I want to make laugh).

Well….people come, people go. So long my friend!

Bookmark and Share